Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis (PPI TB)

(Komite PPI RS Paru Dr. H. A. Rotinsulu)

 

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosis. Penularan mycobacterium TB melalui udara (airborne) yang menyebar melalui percik renik saat seseorang batuk, bersin, berbicara, berteriak atau bernyanyi. Lebih dari 10 juta orang di dunia menderita TB setiap tahun. Dari 842.000 pasien TB di Indonesia, diperkirakan masih ada sekitar 47 % yang belum terlaporkan dan mengakses pengobatan.

Pencegahan dan pengendalian infeksi Tuberkulosis (PPI TB) bertujuan untuk mengurangi penularan TB dalam suatu populasi dan melindungi petugas kesehatan, pengunjung serta pasien dari penularan TB. Dasar pencegahan infeksi adalah diagnosis dini dan cepat serta tatalaksana TB yang adekuat.

PPI TB merupakan bagian dari program kegiatan PPI secara umum di fasyankes, ini merupakan keharusan untuk dilaksanakan di fasyankes yang melayani pasien-pasien TB dan TB MDR/XDR termasuk layanan HIV dimana pasien TB diobati.

Sesuai dengan karakteristik penularan TB melalui udara, maka kewaspadaan transmisi airborne yang menjadi fokus utama upaya PPI TB di fasyankes yang memberi pelayanan TB.

Langkah penatalaksanaan pasien untuk mencegah infeksi TB pada fasyankes yaitu :

  1.     Triase, yaitu pengenalan segera pasien suspek atau terkonfirmasi TB sebagai langkah pertama, hal ini dilakukan dengan menempatkan petugas untuk menyaring pasien dengan batuk lama segera saat datang ke fasyankes. Pasien dengan batuk ≥ 2 minggu atau dalam investigasi TB tidak boleh mengantri  bersama dengan pasien lain untuk mendaftar. 
  2.     Penyuluhan, yaitu menginstruksikan pasien yang tersaring untuk melakukan etika batuk yang benar dengan menutup hidung dan mulut ketika batuk atau bersin. Kalau perlu dapat diberikan masker.
  3.     Pemisahan, yaitu pasien suspek atau kasus TB harus dipisahkan dari pasien lain dan diminta menunggu di ruang terpisah dengan ventilasi yang baik serta diberikan masker bedah atau tisu untuk menutup mulut dan hidung pada saat menunggu.
  4.     Pemberian pelayanan segera, yaitu agar dapat segera terlayani sehingga mengurangi kontak pasien, penunggu pasien dan petugas.
  5.     Rujuk untuk investigasi atau pengobatan TB

Fasyankes perlu membina kerjasama baik dengan sentra diagnostik TB untuk merujuk pasien TB maupun menerima pasien yang terdiagnosis TB.

Selain penatalaksaan pasien, pengendalian lingkungan dan perlindungan diri petugas juga diperlukan dalam PPI TB.

Pengendalian lingkungan bertujuan untuk mengurangi konsentrasi aerosol respirasi yang infeksius di udara sehingga tidak menularkan orang lain. Upaya pengendalian ini dapat dilakukan dengan system ventilasi yang adekuat di semua area pelayanan pasien. Untuk fasyankes yang menggunakan ventilasi alamiah perlu dipastikan angka ventilation rate per jam yang minimal tercapai. Rancangan ventilasi alamiah pelu memperhatikan bahwa aliran udaraharus mengalirkan udara dari sumber infeksi ke area dimana terjadi dilusi udara yang cukup dan lebih diutamakan ke udara luar.

Perlindungan diri petugas perlu menggunakan respirator pada saat melakukan prosedur yang berisiko tinggi misalnya brokoskopi, intubasi, induksi sputum dan pembedahan paru. Selain itu respirator juga diperlukan saat memberikan perawatan pasien-pasien TB MDR/XDR.

Petugas kesehatan dan pengunjung perlu menggunakan respirator jika berada bersama pasien TB di ruangan tertutup. Pasien atau tersangka TB tidak perlu menggunakan respirator N95 tetapi cukup menggunakan masker bedah untuk melindungi lingkungan sekitar.

 

 

(sumber : PPI TB Kemenkes RI 2013)