Bandung - Pada hari Kamis 9 agustus 2018, RS Paru Dr.H.A Rotinsulu menerima kunjungan dari Green Light Comittee (GLC) yaitu  dr. Sarabjit Chada. GLC merupakan bagian dari WHO yang khusus menangani dalam bidang pengobatan paru, terutama bagi kasus paru MDR ( Multi Drugs Resistance)

Pada kunjungan tersebut juga didampingi oleh pihak KNCV, WHO (perwakilan Indonesia) dan Global Fund yang diterima dr.Edi Sampurno, Sp.P, MM selaku Direktur Utama, Direktur Keuangan & Administrasi Umum, Kabid Medik, Ketua Tim Penanggulangan TB dan para Dokter di RS Paru Dr.H.A. Rotinsulu – Bandung.

                Pertemuan diawali dengan paparan profil RSPR oleh Direktur Utama, dilanjutkan dengan paparan progress pengobatan paru MDR oleh dr.Reza Kurniawan T, Sp.P sebagai Ketua Tim Penanggulangan TB di RSPR, kemudian sesi tanya jawab dan arahan dari GLC, WHO, KNCV dan GF (Global Fund).

                RSPR mulai menerima pasien MDR sejak Juni 2018 dan mulai mengobati sejak Juli 2018. Dalam kurun waktu 2 bulan pasien MDR yangn ditangani oleh RSPR sebanyak 4 orang, 2 orang diantaranya mendapat pengobatan STR dan 2 orang dengan pengobatan konvensional.

STR ( Short Term Regiment) adalah pengobatan TB RO jangka pendek yang dilakukan selama 9-11 bulan bagi pasien TB yang memenuhi 7 kriteria sebagai berikut :

  1. Tidak ada bukti resistan terhadap fluorokuinolon/obat injeksi lini kedua.
  2. Tidak ada kontak dengan pasien Tbpre / XDR
  3. Tidak pernah mendapat OATlini kedua selama ≤ 1bulan.
  4. Tidak terdapat intoleransi terhadap obat obat pada panduan standar jangka pendek.
  5. Tidak hamil
  6. Bukan kasus TB ekstra paru.
  7. Tidak terdapat resiko terjadinya “unfavorable outcome”.

 

Dalam kesempatan tersebut, juga mengunjungi Ruang Bougenvile yang sementara digunakan untuk pemeriksaan rawat jalan sekaligus rawat inap bagi pasien TB MDR, karena saat ini gedung MDR kami masih dalam proses pembangunan yang akan selesai di bulan Oktober 2018.